myspace



November 21, 2005

ASAS NIKAH

Mungkinkah kita(orang) menikah tanpa didasari oleh cinta? Ya, mungkin. Malahan ada banyak orang yang mahu menikah hanya berdasarkan kepasrahan. Sesungguhnya, asas Nikah menurut syariah adalah suka sama suka. (Menurut asas ini, "kawin paksa" hukumnya haram, begitu pula paksaan nikah terhadap sejoli yang dituding berzina) Rasa suka sama suka ini boleh berupa "cinta", "sayang", "kagum", "kasihan", "kepasrahan", dan sebagainya. Nah, di antara perasaan-perasaan itu yang paling mendalam adalah "cinta". Jadi, landasan yang paling baik untuk menikah adalah cinta (mahabbah). Selanjutnya, setelah berumah tangga, mahabbah ini perlu dikembangkan menjadi mawaddah(cinta kemanusiaan secara menyeluruh) dan rahmah (cinta keilahian).

ADA LIMA MACAM HUKUM BERCINTA

"Bercinta" itu apa hukumnya? Bercinta itu boleh jadi haram, makruh, mubah, sunnah, dan bahkan WAJIB, tergantung pada situasinya. Sesungguhnya, perintah (HUKUM)dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits ada dua jenis, yakni wajib dan sunnah. Begitu pula larangannya ada dua jenis juga, yaitu haram dan makruh. (Selain pembagian-pembagian itu masih ada pembagian lain: ain-kifayah, muakkad-ghairumuakkad). Bercinta adalah masalah muamalah, yaitu hubungan antaramanusia. Kaedah feqah menyebutkan, semua hubungan muamalah pada dasarnya adalah halal (mubah), kecuali bila diharamkan oleh Al-Qur'an. Dengan memandang bahwa bercinta merupakan persahabatan yang paling akrab antara sepasang lelaki dan wanita yang saling mencintai (dan hal-hal ini tidak diharamkan oleh Al-Qur'an), maka hukum bercinta adalah mubah(dibenarkan).

Bila di dalam percintaan TERWUJUD perzinaan atau hal-hal SALAH lainnya, maka hukumnya haram (salah => haram).

Bila di dalamnya terkandung POTENSI mendekati zina atau hal-hal BURUK lainnya, maka hukumnya makruh(buruk => makruh).

Bila arah persahabatan semacam itu menuju pernikahan atau hal-hal BAIK lainnya, maka hukumnya sunnah (baik => sunnah).

Bila seseorang hendak menikah, sedangkan ia belum memiliki rasa suka kepada orang yang hendak ia nikahi itu, padahal asas nikah adalah "suka sama suka"sebagaimana yang disebut di atas, atau dalam hal-hal BENAR lainnya, maka hukum bercinta dalam kondisi semacam ini adalah wajib (benar => wajib).

Biasanya kondisi-kondisi yang kita hadapi tidak sesederhana kondisi-kondisi itu. Namun prinsip-prinsip tersebut boleh dijadikan pegangan awal.

diedit dari http://www.myquran.org/forum/showthread.php?t=2861

Wallahu'alam...

"Bila pena menari, tinta yang bisu akan berkata-kata"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Cursors